Seribu Satu

February 08, 2016

Orang yang terlihat baik, pasti banyak. Tapi kalau benar - benar baik? Sedikit. Mungkin perbandingannya hanya seribu banding satu saja. Coba kalian pikir, bagaimana reaksi kalian kalau dihadapkan oleh seseorang yang nggak dikenal terus tiba - tiba minta uang? Uang. Sekali lagi, uang. Kalian pasti berpikir, ini orang aneh, nggak sopan, lancang, dan mungkin, kalian buru - buru pergi.

Gue tau, gue adalah pelupa akut. Ya tergantung setiap orang juga sih berpengertian 'akut'nya itu seberapa. Mungkin akut gue belum seakut kalian, atau lebih parah ya? Entahlah. Tapi yang jelas, kejadian kali ini nggak akan gue lupain sampai kapanpun, insyaAllah.

Jadi setelah pulang sekolah hari ini, seperti biasa gue pulang selalu naik angkutan umum. Awalnya gue pulang bareng - bareng, tapi dikarenakan rumah gue yang paling jauh, diakhir gue pasti sendirian, maksudnya nggak ada orang yang gue kenal lagi. Dari sekolah sampai kerumah, setidaknya gue harus mengganti mobil itu sebanyak tiga kali. Bisa dibilang, cukup jauh kan?

Biasanya, gue lancar - lancar aja naik angkutan itu. Tapi hari ini beda, super beda. Gue juga bingung kenapa gue bisa se-pelupa itu, dan nggak sepintar itu dalam memakai otak. Kali ini gue pulang dengan uang yang pas banget untuk ongkos pulang, sama sekali nggak ada lebihnya. Terus gimana bisa gue nggak minta kembalian ke supir angkot yang gue tumpangi? Gue ulang, gue nggak minta kembalian dari si supir angkot itu. Hasilnya apa kawan - kawan? Gue nggak ada uang lagi dan gue tersadar saat gue udah diangkot yang lain. Pasrah. Cuma itu yang gue rasain. Tiba - tiba aja gue terbesit ide untuk minta uang ke mbak - mbak yang ada disebelah gue. Awalnya gue ragu untuk ngelakuin hal itu. Gue sama sekali nggak kenal sama si mbak itu, ketemu aja baru sekali itu di angkot, gimana mau kenal?

"Mbak, maaf mbak, saya boleh pinjam uang mbak nggak? 2000? Tadi saya lupa minta kembalian angkot sebelumnya." Pikir deh secara logis, pinjam? Emang kapan gue bisa ketemu si mbak itu lagi? Tapi... Ah sudahlah.
"Oh iya dek, iya nggak papa. Pakai uang saya aja dulu." Gue kaget, nggak ngira bakalan di terima request gue.
"Wah, mbak. Makasih ya mbak. Maaf sekali lagi maaf mbak." Nggak henti - hentinya gue bilang maaf dan terima kasih. Si mbak cuma bisa bilang iya - iya sambil tersenyum manis.

Nggak akan pernah gue melupakan kejadian ini. Makanya gue nulis ini di blog, ketika nanti gue hampir lupa, gue akan baca blog ini lagi. Dan ketika gue sukses, si mbak, yang belum gue tau namanya, mungkin akan selalu gue sebut dalam setiap cerita gue. Jika bertemu dengan si mbak lagi, dan gue sudah berhasil, maka akan gue berikan apa yang gue bisa. Terima kasih ya mbak. :-)


You Might Also Like

2 comments

Tell me what you think!