Ketika Harapan ≠ Realita

March 20, 2012

Ketika harapan tidak sama dengan realita, maka yang akan gue lakuin adalah mengganti profil alat komunikasi gue to the offline one dan menjauhi twitter. No, please don't call me a loser. I'm not, literally not. I'm just fed up with everything, dengan segala kegiatan gue yang monoton dan membosankan. Ketika sudah senang mempunyai minggu bebas dari sarana pendidikan yang disebut sekolah tapi ternyata tugas menggunung. Maunya sih jadi orang yang produktif dalam satu minggu ini, tapi bukan gue produksi mengerjakan tugas - tugas yang lalu dinilai guru -yang mungkin mereka cuma asal lihat- dengan nilai sederhana atau nilai rata - rata. Mereka mungkin senang melihat anak muridnya mengerjakan tugas, tapi bagaimana dengan perasaan anak murid itu sendiri? Bukan senang yang dirasakan, puas juga bukan, tapi perasaan dimana pekerjaan-sudah-selesai-tanggungan-hilang-satu. Itu dia. Tapi tolong, bedakan sama perasaan puas. Puas itu dimana kita akan senyum setelah menyelesaikan tugas itu, dan ada rasa bangga plus senang di hati. Tapi kalau perasaan yang pekerjaan-sudah-selesai-tanggungan-hilang-satu itu kita sambil ngomong 'fiuh..' setelah menghabiskan tugas itu, dan ingat, tanpa senyum. Gue nggak pernah tuh senyum - senyum habis mengerjakan pr walaupun gurunya seganteng orang ganteng atau sebaik bidadari, walaupun itu sih kemungkinannya kecil ada. Jadi, hal yang mugkin terjadi adalah silahkan kita menari di setiap masalah yang ada. Nikmati segala suatunya dengan suka cita dan keikhlasan yang ada, at least at the end we will all be happy, kalau kita nggak bahagia di kala itu, berarti itu bukanlah bagian akhir. Kata orang bijak sih gitu.

You Might Also Like

0 comments

Tell me what you think!