Gone Too Soon

October 24, 2014

It was Saturday morning when suddenly I got the call.
The call that maybe I will never forget.
A mom's call.

Memento mori. 'Remember, we are mortal', begitulah katanya. Kita hidup lalu akan pergi--mati. Bukankah memang pertemuan selalu bergandengan erat dengan perpisahan? Entah dengan cara apapun, bagaimanapun, serta kapanpun.

Tapi satu yang jelas, untuk hal ini, memento mori tidak berlaku bagi saya. Ia abadi. Beliau abadi. Papah. Ia hidup, selalu selamanya, dalam hati saya.

Untuk Papah tercinta yang selalu saya banggakan,
izinkanlah saya menceritakan sosok pahlawan dalam hidup saya selama delapan belas tahun ini. Agar dunia tahu, you are my super hero.

Edy Priyono, begitulah namanya. Nama pertama yang mungkin dikenalkan pada saya ketika saya baru saja lahir. Tapi lucunya, Papah tidak pernah memakai nama aslinya pada akun sosial media miliknya. Edi Baba Hadi, begitu yang tertera pada facebooknya. Papah juga memiliki (anggap saja) nama beken? Hahaha, nama panggilan favoritnya, eprie, dia gunakan pada setiap e-mailnya.

Jika ditanya bagaimana seorang Papah di mata saya, saya akan menjawab bahwa Papah itu diriku, dan diriku itu Papah. Banyak kecintaan kami yang sama. Banyak karakter kami yang sama. Ah, dan tentunya tingkah laku kami.

Masih jelas dalam ingatan saya bagaimana Papah pertama kali mengenalkan puisi pada saya. Mengajarkan saya membuat puisi dan membacanya ketika kelas tiga SD. Papah, menurut saya, seorang pembaca puisi yang handal. Dengan bukti pada jamannya, SD dan SMP, selalu diandalkan untuk membaca puisi pada tiap kesempatan. Entah lomba daerah, ataupun hanya acara sekolah.

Selain puisi, kecintaan Papa ada pada bernyanyi dan menggambar--walaupun hanya sketsa yang dibuatnya. Mungkin kecintaan saya pada seni menurun dari Papah. Seorang yang artsy, begitulah saya menyebutnya.

Semakin dewasa, saya semakin sadar bahwa sebenarnya Papah membebaskan kami--anak - anaknya--untuk memilih. Melakukan apa yang kami suka. Tak pernah campur tangan ketika kami memang tahu apa yang kami jalani. Malah Papah selalu membantu kami menggapai impian jika memang itu adalah jalannya. Atau saya yang terlalu keras kepala untuk mendengar, Pah? 

'You can be whatever you want, but the risks are all yours.' katanya. Hal itu yang mengajarkan saya bahwa tak apa mengambil risiko besar, selama saya bertanggung jawab di akhir. 

Tapi dulu Papah memang seorang yang tegas. Strict sekali, saya takut. Sudah dijadwalkan untuk saya dan adik saya belajar dari jam tujuh sampai jam sembilan setiap malamnya. Padahal yang saya lakukan, setidaknya, hanya absen duduk di kursi belajar sambil bermain orang - orangan dari pinsil atau pulpen. Hahaha, does not time fly so fast, Pah? Ada lagi, Papah selalu menjadwalkan kami untuk berenang setiap minggu, dan tambahan untukku: menari. Lalu les bahasa Inggris dua kali seminggu. Nggak, kami nggak bisa menolak, memilih, atau membantah kala itu. Semuanya sudah diatur. Tapi lambat laun kami sadar, bahwa hal itu memberikan manfaat yang besar. Papah tidak ingin anaknya tidak lebih hebat dari Papah. 

Walaupun kami, sampai sekarang, masih belum cukup hebat dari Papah.

"Awakmu pancen wong apik, Ed.." salah satu testimoni yang saya dapat dari teman sekawan Papah. Jelas sudah hal itu mendeskripsikan Papah secara keseluruhan. Papah orang baik. Papah, the one who always put his smile every time around his families and friends. The one who cheered every one up. The one who lit the room up. The one who always had the creative ideas. The one who easily gave hand even you did not ask. And the one who, I knew for the very first time I opened my eyes, would be the man I fall in love with. Forever. 

Untuk Papah,
saya rindu. Rindu sekali. Ingin rasanya bertatap muka, berbicara panjang lebar, dan bercanda melepas penat. Belum sempat saya menceritakan bagaimana kehidupan saya di Semarang. Belum sempat juga saya membanggakan Papah. Belum. Saya janji.

Papah,
saya tahu harus ada harga yang saya bayar demi suatu kemajuan yang lebih baik lagi. Mungkin keputusan saya kali ini adalah harganya. Dan ya..

Hello, Jakarta.
Maybe I will be back for good.

Sampai jumpa, Papah! Pada masanya ketika kita 'kan saling berbagi bahagia. Doa kami semua setia menemanimu, tak henti, tak lelah.

You Might Also Like

4 comments

Tell me what you think!