A Hundred Days Without You

February 04, 2015


Assalammualaikum, Papah..

Apa kabar? Aku harap kenyamanan dan kebahagiaan di sana selalu melingkupi Papah. Di sini bisa dibilang kita semua sudah mulai terbiasa, aku, Mamah, dan Adek, semua sudah mencoba untuk kembali normal atas ketidaknormalan sebelumnya karena ada yang hilang, ada yang kurang di antara kami. Pah, sebenernya aku udah mau buat post ini dari 100 harinya Papah bulan Januari kemarin. Tapi maafkan kesalahan anakmu ini yang memang hobi menunda dari dulu hahaha.

Papah, it's been a hundred days since you're gone. Sometimes a part of me still can't believe that you aren't here anymore. Beruntungnya jadi manusia, aku masih diberikan kemampuan untuk dapat merekam dan mengingat hal - hal yang ku lakukan bersamamu dulu. Semuanya begitu nyata Pah saat aku menyorot balik kala itu. But well, life must go on right? 

Pah, banyak banget hal yang mau aku ceritain ke Papah, dari kehidupan aku di Semarang dan juga bagaimana liburan semesterku saat ini. Ah! Dan juga perubahan - perubahan yang terjadi di rumah. Aku kaget waktu pulang dari Semarang ke rumah, ternyata sekarang pagar harus digembok. Biasanya kalau ada Papah, pagar rumah pasti nggak pernah digembok. Karena kita yakin bahwa kita semua aman. Somewhile I hate when everything changes because you are gone. Like everything is not in the place as it used to be again. Call me a conservative, but yes, I hate it. Aku mau semuanya tetap pada biasanya, nggak ada yang berubah. Mamah masih tidur di kamarnya. Kolam masih terisi penuh. Pagar belum digembok. Makanan di meja selalu siap disantap. Komputer di ruang kantor selalu menyala. Mobil selalu jarang di garasi. But then again, I can not stop the changes. 

Dulu, Pah, setiap kita silahturahmi ke rumah - rumah sodara yang salah satu anggota keluarganya meninggal dunia, pasti aja akan ada suasana yang beda dari rumah itu. Suasana sepi. Dan aku nggak mau sebenarnya untuk menjadikan rumah ini menjadi sepi. Karena jelas berasa ada yang kosong. Ada yang pergi dan nggak akan pernah kembali lagi.

Oh iya, sekarang kita punya mbak. Untuk perubahan yang ini aku nggak sangsi sih, I'm fine with it. Walaupun awalnya aku juga mikir berkali - kali untuk menyetujukan alasan Mamah punya mbak lagi. Katanya Mamah suka sepi kalau di rumah dan Adek lagi main ke mana - mana. Walaupun sekarang Mamah juga nggak selalu stand by di rumah, apalagi kalau weekdays. Mamah sekarang sering ke kantor Pah, 8 to 5 pasti di kantor. Cie ada yang gantiin kerjaan Papah di kantor hahaha. 

Pah, aku kangen banget! Kangen banget! Kapan main - main? Bude, Mamah, Adek udah pernah main bareng Papah. Aku? Halah, sekali main nggak pernah interaksi. Kalau terus - terusan begini, aku berasa dianaktirikan nih, hahaha. Kemarin katanya waktu Papah main di mimpi Bude, Papah nggak mau dipeluk ya? Kenapa? Papah terlihat bahagia katanya, aku senang dengernya. Tapi lebih senang lagi kalau aku bisa buktiin sendiri. Tenang aja Pah, doa aku sama Adek insya allah nggak pernah putus, so you will always be happy there!

Biasanya kalau aku kangen Papah, aku cuma bisa flashback doang. You were so real, Pah! Untung ingatan ku masih tajam. Ini telinga juga masih bisa mendengar khas tawa Papah, apalagi intonasi dan nada bicara Papah. Senang juga ya kalau diingat - ingat, aku seenggaknya udah pernah keliling Semarang sama Papah. Makan di Simpang Lima malam - malam, dan motoran di daerah Tembalang, terus beli helm di bawah jembatan dekat tol. Helmnya selalu kepake kok Pah sekarang, tapi aku seringnya nebeng hahaha.

Aku kangen banget deh Pah jalan - jalan malam naik mobil sama Papah, atau nggak harus malam sih. Yang penting naik mobil sama Papah. Kita memang nggak punya aktivitas jalan - jalan malam. Tapi aku selalu rindu dan nyaman setiap pulang Inten dulu atau les LIA pulang dengan mobil. Kita juga jarang bicara ketika naik mobil. It's only silence between us. Tapi itu yang aku rindukan; keheningan akan ada. Setelah Papah nggak ada, ternyata jarang ya orang yang bawa kendaraan dengan diam. Banyak teman - temanku atau orang lain yang harus diajak ngobrol ketika berkendara, Biar nggak ngantuk, katanya. Padahal aku penikmat perjalanan dengan diam, apalagi kalau naik motor terus aku diharuskan ngobrol. Aku malah nggak enak sama yang berkendaranya, Pah, telingaku kayaknya budeg deh nih kalau di motor. Pasti sering "ha? ha? ha?" gitu hahaha.

Setelah aku belajar nyetir, Pah, ternyata aku tipikal orang yang sama kayak Papah waktu nyetir. Dibandingkan harus ngobrol, aku lebih milih untuk diam selama perjalanan. Dan kita sama - sama nggak gampang ngantuk saat berkendara, Pah! Oh iya, aku izin belajar nyetir ya Pah. Mamah juga, walaupun aku tahu Papah sangat melarang Mamah belajar mobil, Tapi kalau kita semua nggak bisa, nanti siapa yang akan pakai kendarannya? Kan kasian mobilnya.

Pah untuk tahun ini, izinkan aku mencoba peruntunganku lagi ya. Aku tahu memang Papah dari awal sudah memperbolehkan aku untuk ikut tes lagi. Buktinya waktu tahun lalu aku izin sama Papah, Papah mengiyakan dengan cepat. Kita itu memang benar - benar sama ya Pah, we love challenge! Umur buatku nggak masalah Pah, yang jadi masalah adalah ketika aku ngga bisa menggapai impianku, dan nggak bisa dekat dengan orang tersayang. 

Kalau ingat - ingat dulu, lucu juga ya Pah, aku dulu sering banget bilang ke Papah. "Pah, pokoknya aku mau kuliah yang jauh. Jauh banget kalau bisa. Aku mau jadi anak rantau aja." Terus Papah nanya, "kamu kenapa sih Kak, maunya kuliah jauh - jauh?" Aku nggak jawab, tapi dalam hati aku bilang, aku mau bebas. Meskipun aku nggak tau definisi bebasku itu apa. Nyesel? Nggak, aku nggak pernah nyesel pernah ngomong begitu Pah. Nggak tau ya, kenapa kok aku orangnya nggak gampang nyesel ya? Tapi sekarang aku tahu Pah, kalau aku nggak pernah ngomong dan kepikiran gitu, aku nggak akan tau rumahku. Aku pernah baca secarik tulisan, katanya, "pergilah, karena tak seorang pun dapat pulang tanpa terlebih dahulu pergi." Dan aku tahu ke mana aku harus pulang setelah aku pergi ini. 

Kalau Papah tanya apakah aku nggak betah di sana, nggak kok. Aku betah - betah aja. Tapi ya itu tadi, that place is not my home. I need my home around me, Pah. Dan satu hal yang mengganggu aku, I can not explore myself much there. I need to, but I can not. Atau mungkin belum ya? Entah, kalkulasiku untuk saat ini, keuntungan akan lebih banyak aku peroleh jika aku ada di rumah. Jadi tolong izinkan dan ridhoi ya, Pah?

Semenjak Papah nggak ada, kenapa aku malah lebih merasa aman ya? Semacam Papah selalu sama aku di manapun aku berada dan kapanpun itu. Sering banget waktu aku jalan - jalan sendirian dan aku nggak pernah merasa takut. Malah aku serasa lagi jalan - jalan sama Papah. Aku merasa aman. Atau saat aku harus pulang di atas jam sembilan dan naik angkutan umum, aku nggak takut sama sekali karena sugesti ku, Papah sedang bersamaku juga. 

Pah, ada berita bahagia loh! Kak Shinta udah lahiran sekarang, katanya itu pengganti Papah. Laki - laki juga, jadi Adek ada teman mainnya deh. Namanya Alden, dipanggil Al. Kenapa ya sekarang banyak banget nama Al buat bayi - bayi? Papah udah liat belum bayinya? Mampir - mampir aja ke rumah kak Shinta, hahaha.

Pah, aku kadang ngerasa iri. Iri sama Papah. Kenapa kok kayaknya nggak adil ya, Papah ditinggal sama Mbah ketika Papah udah berkeluarga? Nah aku sama Adek? Umur belum sampai 20 tapi kok Papah udah pergi aja? Iya, aku tau, memang nggak akan ada yang pernah tau kapan maut akan menjemput, Tapi tetap aja buatku ini terlalu cepat. Jadinya kan aku sama Adek nggak punya banyak waktu untuk membahagiakan Papah.

I think this is the end of my letter to you. Boleh berharap untuk dibalas nggak nih, Pah? Hahaha. I wish you are doing good up there, Papah. I love you.

You Might Also Like

0 comments

Tell me what you think!