The Journey Part 1

February 16, 2017

"How do you sum up your fifth semester?"
"It's metanoia, the journey of changing one's mind, heart, self, or way of life."

This afternoon, I stumbled upon a word in Pinterest. Yes, it's metanoia. I think it has a beautiful yet strange meaning. Wondering how a thing could change one's mind, heart, self, even way of life in one time, and yes, the fifth semester actually could do it. Of course, I'm not the only person who felt that way, because my friends did the same.

Sedikit banyak, secara sadar atau nggak sadar, semester lima membawa perubahan besar di hidup gue. Kalau boleh bilang, semester lima ini merupakan yang terberat (Gue masih belum tahu untuk semester ke depannya sih, but from what I heard, the fifth semester could be the hardest part on the college journey). Kenapa? Karena di semester ini lah semua projek besar terlaksana. And I would express my gratitude to this semester for giving me breakouts (entah karena stress atau hormonal) on my face (terpenting).

Di semester ini seringkali gue bilang ke diri gue, "I'm not studying for this.. Orang tua gue ngirimin gue buat kuliah, bukan untuk hal ini." Percaya atau nggak, banyak hal yang pada kenyataannya mesti dilakuin padahal nggak ada kaitannya dengan perkuliahan. Hal - hal yang malah lebih banyak ngambil waktu, tenaga, pikiran, dan tentunya, perasaan.

Hal - hal yang awalnya gue kira nggak penting.

But then, I was wrong. Ternyata semua hal yang gue anggap nggak penting, malah jadi amat penting. Terlebih - lebih untuk ningkatin kemampuan gue, juga nambahin ilmu yang nggak pernah gue dapat di ruang kelas. Nggak mudah memang untuk sampai pada konklusi ini. It took steps. And this kind of steps are like a journey for me. Sure it had been rocky, but surely felt good.

Gue juga udah paham betul bagaimana teman - teman gue bilang, I was way more sensitive and emotional than before and I realized that I'd myself changed. I had written a note about this semester before:

'Life is a mess lately. A mess. I don't know that this semester could make me so emotional, mood changing so fast, full of hatred, negative vibes all over. And myself doesn't know that she actually can't stand the force. There are things that must be done. Too many things that I can't handle fairly.'

So to people who have been hurt, I'm sorry.

Dan satu hal, gue juga semakin yakin bahwa: holding anger will lead you to sickness. Nggak bohong, I've been there.

Tapi, terlepas dari itu semua, banyak pelajaran, pencapaian, pemahaman baru yang didapat. Dari potensi yang semakin terasah, gue juga semakin kenal dan paham dengan orang lain. Pun diri gue sendiri.

Gue semakin tahu bahwa ada orang yang seperti ini, ada orang yang seperti itu. Bagaimana cara - cara tiap orang berbeda dalam kondisi tertentu, baik ketika dalam kesulitan atau dalam keadaan senang. Gue juga tambah mengerti diri gue sendiri, banyak momen "oh, ternyata gue.." yang gue alamin di semester ini. Intinya, I got the chance to know myself better.

And without further ado, here goes my journey..

ICISPE 2016

Starting the semester with this project: ICISPE 2016, International Conference on Indonesian Social and Political Enquiries, yang diadakan oleh para dosen FISIP UNDIP. Thanks to Kak Arya dan Mbak Ayu for giving me the opportunity to be a part of this event. Sebenarnya ini bukan lahan yang ‘gue banget’. Tapi karena entah dari mana rasa tertarik muncul dan akhirnya, yes I accepted the chance. Being a PIC with Fadil on this event wasn’t that bad. 

Mungkin yang agak bikin riweuh adalah waktu pertama di awal – awal persiapan acara. I could say that this event was unprepared, terlihat terburu – buru dan kurang siap. Gue juga sempat dijadikan koordinator photobooth dengan Wahyu—padahal dari awal sudah dimandatkan menjadi PIC oleh Mbak Ayu (wow, it’s rhyme). But the good thing was, gue jadi diperkenalkan dengan orang – orang lucu dan menggemaskan (dan ngeselin) macam Wahyu, Fahmi, dan Adit. Dan juga, tanpa teman – teman dari Ilmu Komunikasi, Dyu, Cae, dan Gusti, I could be nothing. Thank you all for the teamwork!

Being a Mentor in LKMM-PD: #HappyEnough Project

The first time I was appointed to be a mentor by Icha and Kak Inyoi, I was like, really? Am I a mentor? To be honest, I'm not a fond of kiddos (tapi tenang, I'm trying to like them little by little kok hahaha). Cuma segelintir anak kecil aja yang gue suka, anak - anak di Watch Cut sama keponakan - keponakan gue.

Terus apa hubungannya anak kecil dan menjadi mentor, Nik? Jadi, setiap kali gue ditunjuk jadi mentor atau kakak pembimbing orientasi sekolah misalnya, gue selalu nggak mau. Takut awkward? Nggak bisa? Nggak suka? Males? Semuanya mungkin. Ketika jadi kakak pembimbing, mau nggak mau pasti mereka akan jadi adik - adik. Dan adik - adik itu (buat gue) anak - anak. Get my point here? I guess you don't! Hahaha. 

Padahal bedanya cuma setaun atau dua tahun aja. Ih, baru sadar, berarti gue selalu menganggap diri gue (sangat) tua doang? But guess what, the interesting part is, gue lebih get along well dengan adik - adik dibandingkan kakak - kakak. Yes, you read it right. Even my mom told me that I'd be a great mother, just because she saw me playing with kiddos (my niece and my nephews).

Pada akhirnya, gue memutuskan untuk tetap menjadi mentor.

Dan gue nggak nyesel. 100% nggak.

Agiel, my partner in mentoring this group took the cheerful role--cause this sister here couldn't do that. Entah karena gue terlalu serius atau takut awkward. Thank you, Giel, I owe you! Selain beruntung dapat Agiel as my partner, gue juga beruntung untuk jadi mahasiswi Ilmu Komunikasi UNDIP. I could say that our LKMM-PD is unique and different from others! Selalu senang jadi beda, kreatif, dan tetap berhasil. Psst, this is our first LKMM-PD #fyi.

'Lewat LKMM-PD Ilmu Komunikasi yang pertama kali diadakan ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi sebagai #HappyEnough agents akan belajar banyak hal tentang public speaking, leadership, dan how to be creative. Nantinya, mereka akan turun ke jalan dan menjalankan social campaign #HappyEnough untuk buat banyak orang bahagia, walaupun lewat hal - hal kecil.'

That's a brief explanation about our LKMM-PD, a #HappyEnough project. Setiap kelompok diberikan mandat untuk membuat kampanye yang sesuai dengan brief, bebas dengan tools apa saja untuk menjalankan kampanyenya. Dan lagi - lagi gue bersyukur, I've got a great team. Couldn't ask for more.

Besides considering them as my younger brother or sister or even kiddos, I'd consider them as my friends.

They are all young, creative, smart, and the most important thing is they never give up. They had so many different ways to make people happy. Dari mereka sendiri yang menghias wajah mereka dengan riasan lucu, menggombali para pejalan kaki, sampai memberikan permen yang dihias dengan kertas crepe kuning lalu disertai quote di tangkainya. Oh, nggak lupa juga bagi orang - orang yang sudah bahagia, diharuskan sign di karton putih yang telah disediakan.

Sure, everybody signed. Because they were full of joy around them--and of course, me too.

Look at their efforts! Gimana orang - orang yang lewat nggak mau bahagia?
Kalau untuk ngegombalin orang sih kayaknya milih - milih ya? Apalagi perempuan - perempuan ini hahaha
Everybody signed!
Benar - benar pantang menyerah dong, mereka sebelumnya berputar mengelilingi bundaran UNDIP sambil nyanyi - nyanyi untuk narik perhatian massa dan ends up foto di tengah bundaran.
Salah satu hal yang membuat gue nggak nyesel sebagai mentor mereka adalah gue juga mendapatkan pelajaran berharga. Buat gue pribadi, jadi mentor nggak selalu gue yang harus mengajarkan ilmu kepada mereka. Tapi mereka juga bisa mengajarkan ilmu ke gue. I'm not that ambitious little girl, but still, I want everything to be perfect. To be the best. So I told to them to do the best--to be a winner. Yes, in the end, there would be an assessment to decide which is the best team.

And guess what?

One of the member; the leader, Farhan, said that, "just do it wholeheartedly, do it with love. Forget about to be a winner," woah, I am sure I was amazed, "because as long as we do it with love, there's possible to us to be the best."

Right. They did. They did the best and they were the winner.

Mungkin gue terlalu fokus pada ujungnya, pada hasilnya. Tanpa memperhatikan bagaimana perjalanan yang ditempuh untuk meraih hasil, bagaimana perasaan harus nyaman, senang terlebih dahulu dan melakukan suatu hal sepenuh hati untuk bisa mencapai target. Atau malah, lupakan saja pencapaian, kemenangan, just don't expect anything. Just do it with love, in this case, to make people happy.

Dan mereka berhasil mengingatkan gue kembali bahwa: sometimes the most important thing is to enjoy the journey, without any kind expectations so there will be no disappointments in the end. Again, 'do it with love' is kind of magic thing. 

Agiel, the oh-not-so-ready-me, and the team in our last location to make people happy!
Dear Wina, Ria, Dira, Ester, Kiky, Mega, Gerald, Bulan, Alin, Farhan, and Indra (who couldn't be there at the moment), thank you so much for giving me something to learn about. I'm sure you all will be a great person and get anywhere with those attitudes--as long as you enjoy what you do. Be kind and do good, semangat terus yah! And dear Agiel, once again, thanks a lot for being my partner. Dear team, we did a great job!

First Public Service Advertising

Achievement unlocked! Dari dulu gue mau banget punya karya iklan, mau itu iklan produk atau iklan layanan masyarakat, mau itu yang berbentuk print atau video, ya apapun. Again, the perks of being a communication student: you have the chance to make it comes true! Di gue, ada salah satu mata kuliah namanya Strategi Kreatif, basicnya sih sama kayak mata kuliah Periklanan, tapi lebih advanced aja. Tugas akhir dari mata kuliah ini adalah membuat iklan layanan masyarakat perkelompok.

So glad that I got the chance to experience it with Kukuh and Christo and not to forget, Astrid, as our video editor. So much thanks, guys!

Awalnya, gue mau tentang mental illness atau mental health untuk ILM ini (I don't know, way too concern with those issues). But found out, it was too hard to get the datas and insights. Sampai pada akhirnya, 'kenapa kita nggak ambil isu yang memang dekat dengan kita?'. Jaman - jamannya semester lima kemarin adalah jamannya teman - teman seangkatan banyak yang sakit. Ada beberapa yang sampai dirawat di rumah sakit--lagi - lagi, karena memang semester lima seberat itu.

Dan jadilah ILM di bawah ini, bercerita tentang seseorang yang senang menunda pekerjaan, lalu melembur, dan setelah itu, you know: bad thing happens. Just check it out on this video below:


PR Campaign: Yang Muda Yang Menginspirasi

This was one of the big projects that should be done in this semester. A public relations campaign. We made a team consist of ten people, assigned roles such as who is the project leader, the account executive, the ones who are responsible with budgeting, creative, program, and logistic. I was on creative division in this project with Kika, we were responsible with the all design campaigns, concept of media campaigns, and documentations.

Then came the great part: find the client.

At first, we made a deal with Plaplay Semarang to be our client, but well, turned out our vision didn't match so we called it off (there was actually another reason why, but hey team, just keep it as secret right? Hahaha.) Sebenarnya kita nggak mengajukan kerja sama hanya pada satu perusahaan aja waktu itu. Kuncinya adalah cari sebanyak - banyaknya. Ajuin surat ke mana aja.

And the good news arrived; Indosat Ooredoo acc! Yay!

The Team and The Volunteers.
Dari situ, mulailah kita ribet - ribet asik--what?! Dari yang konsul ke dosen untuk gimana konsep kampanye kita, pitching sana pitching sini (ke dosen dan Indosat), proposal diutak - atik karena tidak sesuai--keinginan dosen (yes right and that was really okay), not to forget: the begadang part. Pokoknya seru, dari proses awal pembuatan proposal sampai bisa LPJ-an.

Kampanye PR kita berfokus pada meningkatkan awareness produk Stream On-nya Indosat Ooredoo dan juga ngurangin persepsi bahwa Indosat itu lemah sinyal di kalangan pelajar SMA di Semarang. That was the core problem. Jadi target campaign kita jelas pelajar SMA di Semarang.

Tau masalah itu darimana? Well, we studied. Kita riset. Buat anak jurusan Ilmu Komunikasi, riset udah semacam makanan sehari - hari (berlebihan, I know). Almost every semester we did it for our assignments. Sampai - sampai kita udah kenyang dapat omongan: lo kok nyebar kuesioner mulu sih kerjaannya? Lo kuliah cuma bikin kuesioner ya? Dari teman - teman yang nggak sejurusan, biasanya dari grup circle SMP/SMA ataupun SD.

Ya gimana, dong? Tanpa riset atau kuesioner yang kita - kita bagiin itu, we will never know the core problem. Kalau kita nggak tau inti masalahnya apa, gimana caranya kita bisa menentukan strategi dan taktik yang tepat? Dan kalau strategi dan taktik kita nggak tepat, gimana caranya kita bisa nyelesaiin masalah dengan efektif?

Just find the answer by yourself.

We brought "Yang Muda Yang Menginspirasi" as our campaign theme. Selain dengan menentukan inti masalah yang ada, kita juga dituntut untuk memilih isu luar--not that kind of issue sih--lebih ke 'ada peristiwa apa nih yang bisa diangkat untuk jadi tema kampanye kita?' Dan karena penyelenggaraan kampanye bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, makanya peristiwa Sumpah Pemuda lah yang kita angkat.

Bentuk kegiatan dari kampanye PR ini sendiri adalah rangkaian acara, dimulai dari digital campaign melalui media sosial Indosat Ooredoo Jateng & DIY untuk menginformasikan adanya kontes foto, roadshow kontes foto, lalu ditutup dengan Inspiring Class. Nggak lupa juga ada penggunaan offline medianya, such printed medias.

Walaupun target adalah pelajar di Semarang, tapi bukan berarti kita mendatangi setiap sekolah yang ada. Roadshow hanya dilakukan ke tiga SMA/K yang memberi izin. Tetapi kontes foto terbuka untuk pelajar dari SMA manapun. Sedangkan Inspiring Class sendiri hanya diadakan di satu sekolah yang beruntung--yang salah satu murid di sana memenangkan kontes foto dan karena pemenang kontes foto berasal dari SMK 11 Semarang, maka di sanalah diadakannya Inspiring Class.

SMKN 11 Semarang highschoolers!
Andreas Andika (Finalis Kenang 2016) and Hanny Nurmalita (Finalis Putri Indonesia Jawa Tengah 2016) as our speakers in Inspiring Class.
How to find Nikita 101; no, you can't. I was the one taking picture.
It took a long process to finally made this to end, and of course, a rocky road. There will always be problems in everything right? But well, at least we survived! Because every problems always have solutions. So to dear Amel, Rina, Erika, Bulan, Ratri, Kika, Mbak Elin, Dani and Andrew, thank you for making this team as great as ever. Through the ups and downs, we finished the line. And to dearest volunteers; Badri, Andre, Gerald, Linda, Paund, dan Osa, thank you for the contributions. Semangat untuk kampanye kalian di semester - semester depan!

Dan yang paling penting: untuk Indosat Ooredoo Regional Semarang, serta setiap orang di dalamnya yang selalu menjadi our support system, we wholeheartedly say thank you for the guidance and helping us improve. Juga kak Dania dan kak Meika yang sangat membantu membuat Indosat Ooredoo paham maksud dan tujuan dari surat yang diajukan hahaha! Once again, thank you!

Laters, baby! Until the next post: The Journey Part 2.

You Might Also Like

0 comments

Tell me what you think!