It's All About Time

June 07, 2017

Pasar Klitikan, Semarang. 2015
"Lo pernah takut nggak ditinggal pas lagi sayang - sayangnya?—kok bisa ya, hanya dalam waktu semalam aja kita sama – sama bilang sayang, padahal kita udah kenal belasan tahun."

Salah satu teman gue menanyakan hal itu ke gue—tentang dirinya—yang mana gue nggak bisa jawab. Gue nggak pernah tahu rasanya takut ditinggal waktu lagi sayang – sayangnya karena memang gue nggak pernah berada di posisi itu.

I will never let myself to be in a position where the relationship status isn’t cleared. Saling sayang, tapi nggak pacaran, tapi juga sayang – sayangan. 

Tapi, apa yang membuat gue menulis hal ini bukanlah tentang hubungan itu dan/atau perasaan takutnya. Gue tertarik untuk menilik lebih jauh tentang rasa penasaran teman gue—yang mana sekarang gue jadi ikut penasaran.

Kok bisa ya, hanya dalam semalam aja kita sama – sama bilang sayang padahal kita udah kenal belasan tahun?

Kok bisa? Apa yang membuat hal itu terjadi? Kenapa mesti pada malam itu? Kenapa nggak kemarin? Sebulan yang lalu? Dua atau tiga tahun yang lalu? Atau belasan tahun yang lalu? Ya nggak mungkin sih belasan tahun yang lalu, soalnya masih kecil. 

Terus muncul lagi pertanyaan: perasaan sayang yang muncul itu perasaan yang kayak apa? Sayang yang kayak gimana? Perasaan sayang temporer atau perasaan yang murni sayang kepada teman lama? Atau malah perasaan sayang yang nggak pernah dirasain sebelumnya—yang akan berlangsung lama?

I couldn’t answer, but I have this one assumption:
It’s all about time. It’s all about time we come to realize that we have feelings toward him or her.

Terlepas dari berapa lama temen gue ini udah kenal sama orang yang, mungkin saat ini, dia sayang. Gue yakin kok, memang dari dasarnya (dari dulu) pasti udah ada sedikit rasa aja—di alam bawah sadar. Cuma belum terlihat dan baru sadar sekarang. Pun begitu dengan temennya gue ini.

Habis ini temen gue di sana, sambil baca blog gue, denial deh hahaha!

Ya itu sih teori gue. Perasaan itu emang udah dari dulu ada, tapi kitanya nggak sadar. Gue jadi penasaran, apakah akan ada saat di mana gue ngerasain hal yang sama kayak temen gue? The time to realize feelings?

Epilogue:
At the end of the day, my friend told me the reason why she is into a relationship like that, "in case of love, gue tuh nggak visioner. Gue cuma mau hidup hari ini. Nikmatin kebodohan gue, nikmatin kebodohan dia."

You Might Also Like

0 comments

Tell me what you think!