Tentang Rindu

June 17, 2017

A view that I do really miss

"Kenapa sih lo demen banget lama - lama di kampung?"

Sering kali gue mendapat pertanyaan seperti itu, apalagi saat mudik lebaran. Tentunya pertanyaan itu datang dari teman - teman gue sendiri. Pada dasarnya, gue memang senang perjalanan jauh; duduk di mobil, melihat pemandangan dari jendela, lalu sawah, ladang, perumahan, sungai, sampai hutan pun terpampang jelas dan jujur dari sana. Tapi nggak jarang waktu kemacetan melanda, sering banget gue ngeluh dan ngebatin, kenapa gue nggak naik kereta aja sih? But no! Esensi mudik lebaran akan hilang kalau naik kereta, menurut gue.

Ada banyak alasan kenapa gue senang lama - lama di kampung. Mau itu di Magelang, kampungnya Mamah, atau di Madiun, kampungnya Papah. Keduanya bener - bener ngasih gue pelajaran. Pelajaran apalagi kalau bukan pelajaran hidup. Magelang ngajarin gue tentang arti kesederhanaan, sedangkan tempat Papah mengajarkan kalau hidup bukan tentang kamu sendirian.

Kampung Mama dan kampung Papah benar - benar kontras. Papah bisa dibilang nggak hidup di kampung, Papah dibesarkan di kota Madiunnya. Sedangkan Mamah, well, Mamah hidup di desa, Ngluwar tepatnya. Setiap kali mudik lebaran, gue dan keluarga selalu menyempatkan untuk bertandang ke dua kota tersebut. Seringkali Magelang menjadi destinasi pertama, lalu lanjut Madiun di hari lebaran kedua atau ketiga. Karena naik mobil, tak jarang kita mampir dulu di Solo. Ke tempat milik salah satu teman Papah, kalau kalian orang Solo atau Karanganyar kalian juga harus mampir ke tempat ini, Agrowisata Sondokoro.

Hiruk pikuk kota membuat gue sadar bahwa ada yang kurang. Ada hal yang masih belum gue dapatkan di kota dan baru disadarkan ketika gue berkunjung ke kampung halaman melalui aktivitas mudik lebaran. Meski bukan kampung halaman gue. Selain itu, berkunjung ke tempat tumbuh kembangnya Mamah dan Papah bisa membuat gue sedikit banyak tahu bagaimana mereka hidup pada jamannya.

Di Magelang, gue biasanya menghabiskan waktu di rumah Mbah dan sesekali keliling daerah sekitar. Ke sawah - sawah, blumbung, kebon, kali, maupun hutan? Hahaha, gue inget waktu kecil dulu. Gue, adek gue, sama dua orang sepupu gue yang umurnya nggak jauh dibawah gue berjalan - jalan masuk hutan yang berujung sawah. Seolah - olah kami adalah tim jejak petualang. Oh ya, nggak lupa masing - masing dari kami membawa satu buah tongkat--yang pada saat itu dimanfaatkan untuk membuat jejak garis untuk pulang. Padahal ujung - ujungnya jejak garis itu tidak terpakai. Ujung - ujungnya kami disuruh pulang karena bertemu dengan tetangga Mbah yang sedang bercocok tanam di sawah, tentunya diantar beliau. Dimarahin? Dikit. Khawatir ada empat bocah hilang di tengah hutan.

Kalau gue kilas balik, gue kangen banget masa - masa itu. Mau mengulang lagi? Oh, tentu sulit! Adek gue udah malas diajak jalan - jalan keliling daerah sekitar, apalagi ke sawah - sawah. Pernah gue coba ajak lari, jogging sore sih tepatnya, eh dia nggak mau. Padahal asli, pemandangan yang ada cantiknya bukan main. Sepupu - sepupu gue? Udah jarang kami mudik lebaran bareng - bareng. Ah, pokoknya rindu.

Sekarang yang gue lihat di kampung Mamah saat gue mudik lebaran adalah anak - anak kecil sedang lari - larian di tanah lapang. Iya, masih banyak tanah lapang di daerah sana. Lari - larian, cerita sambil ketawa - tawa. Sesederhana itu ya mereka bahagia dan sesederhana itu pula dulu gue bahagia. Bukti nyata bahwa kesederhanaan masih dapat menghasilkan kebahagiaan.

Ketika gue melihat mereka, anak - anak kecil yang berlarian, pun diri ini tetap tersambar kebahagiannya. Walaupun waktu malam takbiran, Nikita suka kesal dan menegur sepupu sendiri yang tinggal di Magelang untuk nggak main petasan. Kan bahaya! (Mungkin ini sih alasan kenapa anak kecil kadang kurang suka dengan orang dewasa, suka merampas kebahagiaannya sih. Hahaha!)

Okay, setelah lima sampai enam hari tinggal di rumah Mbah di Magelang, saatnya pergi menuju Madiun! Yang gue paling ingat ketika mudik di Madiun adalah setelah selesai silahturahmi ke Mbah - Mbah dan tetangga di sana, Papah akan hilang. Ke mana? Ke semua reuni yang mengundang Papah. SD, SMP, dan SMA semuanya didatangi. Kalau soal reuni, Papah paling rajin. Kadang Mamah suka bete kenapa Papah lebih milih reunian sama teman - teman dibandingkan keluarga. Papah was such a friendly one. Gue pernah nulis dulu di post terdahulu tentang Papah, "he was the one who always put his smile every time around his families and friends. The one who cheered everyone up. The one who lit the room up and the one who easily gave hand even you did not ask." He was a good person.

Gue sempat bertanya ke Papah kenapa dia lebih memilih untuk reunian terus dan 'seolah - olah' menelantarkan keluarganya karena tidak diajak jalan - jalan. Papah bilang bahwa, "ya mumpung di sini. Kapan lagi coba, Kak, bisa kumpul komplit bareng temen - temen?" 

Pernah sekali gue nemenin Papah reunian, di sebuah restoran seafood keluarga di pinggir jalan. Ternyata benar, Papah salah satu sosok yang memang ditunggu oleh teman - temannya. Terlihat jelas perubahan raut wajah dari teman - temannya ketika Papah datang. Apalagi kalau ada musik dan mic, Papah bisa langsung nyanyi - nyanyi meramaikan suasana. He was really good at singing--yang mana kok nggak menurun ke gue atau Anov sih?!

Dan satu lagi, setiap kali gue jalan - jalan di komplek rumah Madiun, even ke warung kecil pun, pasti langsung ditanya, "anaknya Pak Ed ya?" Padahal pemilik warung, gue menebak, umurnya lebih muda dari Papah. Entah wajah gue yang mirip Papah makanya langsung dikenali atau memang seterkenal itu Papah dari jaman dulu. Logikanya, kalau pemilik warung lebih muda dari Papah, artinya dia masih ingat Papah sejak dulu. Padahal selepas sekolah Papah langsung merantau ke Jakarta. Heran, ini orang dulu mainnya sama siapa aja sih?

Terakhir, sesi storytelling adalah sesi yang paling gue rindukan saat mudik lebaran ke kampung halaman. Biasanya kami kumpul di ruang tengah atau kamar dan bercerita tentang kehidupan Papah dan Bude - Bude pada jamannya. Ketawa nggak udah - udah saat Bude cerita jaman dulu. Dari sana gue tahu, Papah dulu nakal--nakalnya anak kecil ya. Suka nggak mau pulang kalau belum menang main banyak - banyakan karet dan gundu. Pulang - pulang biasanya udah bawa gundu setoples, padahal pas berangkat nggak bawa apa - apa.

Ah, mungkin itu alasan kenapa Papah dikenal. Bandelnya ketika masih kecil dan keramahannya ketika muda dan tua. A good person will always be remembered ya, Pah?

--

A simple note:
Halo! Sejujurnya, gue harusnya post ini dari bulan puasa tahun 2012 atau 2013, gue lupa. Tapi karena selalu tidak kunjung selesai, akhirnya gue cuma bisa jadiin tulisan ini sebuah draft aja. Kebetulan malam ini gue lagi ulik - ulik draft di blog dan rasanya ingin melanjutkan nulis post ini. Lagi kangen sama Papah juga sih! Kenapa judulnya Tentang Rindu? Ya karena rindu dengan semua hal yang nggak akan lagi bisa gue ulangi. Mudik naik mobil, berempat aja. Papah, Mamah, gue, dan Anov. Mampir sana, mampir sini. Ketawa cekikikan sambil nunggu macet yang nggak selesai - selesai karena lawakan Papah yang basi tapi sukses buat ketawa. Atau keisengan kita untuk milih keluar dari mobil karena mobil di jalanan sama sekali nggak gerak! Ah, kapan ya bisa mudik road trip lagi? Karena sekarang apa - apa pasti dengan kereta. Target gue: mudik bertiga; Mamah, gue, Anov, dan road trip! Tapi tunggu Anov tuaan dikit deh, biar bisa gantian nyetir mobilnya--sekalian nunggu kakaknya belajar (lagi) dulu. Hahaha!

You Might Also Like

0 comments

Tell me what you think!